Langsung ke konten utama

Jangan Maju Sekarang Pak Sandiuno !!

Kali kedua bertemu Sandiaga Uno. Sosok tampan, senyum mengenang, dan idaman setiap wanita mungkin. Kedermawanannya sebagai muslim juga sudah perlu ditanya. Sebagai amil zakat, kami paham betul betapa sisihan harta kebaikannya terpotong rapih dalam setiap tahunnya.
Pertama sekali bertemu adalah saat menyambangi beliau di lapangan golf milik sendiri yang berdomisili di wilayah Senayan Jakarta. Saat itu kami hendak mengambil gambar (foto) untuk dijadikan visual kampanye "Ayo Bantu Gizi Buruk". Namun sayang, tidak jadi naik karna langkah beliau yang melaju menjadi bakal calon DKI 1. Hal yang memang tidak boleh dilakukan oleh Dompet Dhuafa.
Saya Boy, dari Dompet Dhuafa pak, "ujar saya sembari menjabat pertama kali tangan beliau". Selang 3-4 detik, beliau mengenalkan diri. "Saya Sandi, penggemar Dompet Dhuafa". (Tetiba terlepas senyum dari saya).
Tak menyangka, sosok yang memang sangat humble. Tergambar dalam pertemuan tersebut. Hal tersebut pula yang juga tergambar selama 2 jam sesi foto. Sosok sederhana, dan menurut atas instruksi yang kami arahkan.
Pertemuan itu terjadi lagi saat acara "Rezeki Tak Disangka-sangka" kemarin (27/4). Satu panggung dengan mas Ippho Santosa dan Bang Adhyaksa Dault. Acara yang sejujurnya memang tak disengaja.
Pak Sandi, JANGAN MAJU SEKARANG YA, ujar riandi (amil DD) saat menyampaikan pesan pengurus masjid Istiqlal kala itu. Senyum bang Sandi sembari berbisik, "baik mas, saya mengikut saja". Hal tersebut harus disampaikan terlebih dahulu karna ada perubahan agenda acara. "Ada sambutan pengurus masjid yang harus didahulukan urutannya", tambah riandi.
Meski pada akhirnya pengurus masjid mempersilahkan bang Sandi utk menyampaikan materi berdurasi 15 menit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Yang Membiru

Nampaknya belum hilang, memori saya beranjak dari kantor buncit awal Februari 2017 silam. Kampus hijau yang membuat saya "terlahir" untuk meneruskan perjuangan, sebagai seorang hamba. 7 tahun yang fantastis dalam fase kehidupan. =============================== Tok tok tok... "Mas Boy, ini laptop dan seluler beserta simcardnya ya. Login dan password sudah saya tuliskan di kertas kecil", ujar Human Resources (HR) Officer Yayasan Sayangi Tunas Cilik (sekarang Save The Children Indonesia). 7 Maret 2017. Satu bulan persis setelah meninggalkan rumah hijau. Setelah mbak HR pergi, saya membatin dalam hati. Keren sekali lembaga ini. Ini adalah poin pertama yang harus saya catat tentang pengelolaan Organisasi international. Cara sederhana lembaga memberi penghargaan kepada staf-nya. Bathin saya kemudian liar, nampaknya 3 tahun disini cukup. Dan saya catat satu per satu pelajaran baiknya sebelum nanti "pulang". 6 bulan kemudian saya tiba di Madrid, Spanyol. Padahal b...

RINI

Mas yang namanya masBoy ya? 2013 kalau ndak salah. Perempuan berhijab yang masih kuliah waktu itu. Logatnya sudah kuduga, pasti orang minang. Kemudian kujawab, Iya bener. Kenapa mbak?   Lupa detail apa yang ia bicarakan saat itu. Tapi kuingat sekali ia menawarkan solusi satu hal di CRM. Lama tak bertemu, ntah mengapa akhirnya ia menjadi bagian tim Fundraising. Ramadhan kalau ndak salah. Maklum, ramadhan memang menjadi tempat singgah Dompet Dhuafa untuk anak mahasiswa yang ingin nambah uang jajan. 2015, akhirnya ia resmi kami rekrut. Menjadi bagian tim hebat FR. Menjadi bagian mak Tika untuk FR Infak Tematik. Aktif dengan tawaran-tawaran solusinya tetap ndak hilang. Satu yang saya rindu dari Rini, saat menelfon tantenya dengan bahasa minang. Fasih, minang 'language' yang sudah mulai jarang Umi dendangkan waktu dirumah. Gadis minang yang kuat. Maklum. Seorang Rini yang harus tetap membiayai adiknya yang juga kuliah saat itu. Saya tidak tahu mendalam mengenai o...

Cinta Buta itu Rindu

Dulu, aku pikir cinta buta adalah hal yang buruk — cinta yang menutup logika, yang membutakan arah, yang membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.  Namun, kini aku tahu, ada satu jenis cinta buta yang justru menumbuhkan makna paling dalam: cinta buta itu bernama rindu. Saat pesawat lepas landas meninggalkan tanah air, ada bagian dari hati yang tertinggal di rumah. Di sebuah halaman kecil yang sering dipenuhi tawa anak-anak, di bawah atap sederhana tempat cinta tumbuh dengan cara yang paling tenang. Aku masih bisa membayangkan dengan jelas — pagi yang lembut itu, ketika aku berangkat. Si kecil duduk di boncengan sepedaku, tangannya yang mungil ikut memeluk stang sepeda. Di samping kami, abangnya ikut bersepeda dengan roda kecilnya, berusaha menyaingi langkah abinya. Dari depan rumah, bunda melirik sambil tersenyum, tangan kanannya masih memeras cucian, menjemur pakaian di bawah matahari Sementara dua abang lainnya sudah lebih dulu pergi ke sekolah, menimba ilm...