Dulu, aku pikir cinta buta adalah hal yang buruk — cinta yang menutup logika, yang membutakan arah, yang membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Namun, kini aku tahu, ada satu jenis cinta buta yang justru menumbuhkan makna paling dalam:
cinta buta itu bernama rindu.
Saat pesawat lepas
landas meninggalkan tanah air, ada bagian dari hati yang tertinggal di rumah.
Di sebuah halaman kecil yang sering dipenuhi tawa anak-anak, di bawah atap
sederhana tempat cinta tumbuh dengan cara yang paling tenang.
Semua itu kini menjadi
potongan investasi rindu yang kutatap dari jauh — dari tanah asing, dari tenda
kemanusiaan, dari antara deru angin dan debu di lapangan misi. Setiap kali aku
menatap wajah-wajah penyintas, anak-anak yang kehilangan rumah dan keluarga,
aku melihat bayangan mereka di sana. Dalam senyum seorang anak yatim, aku
melihat anak-anakku yang patut disyukuri bersama. Dalam lelahnya seorang ibu
pengungsi, aku melihat wajah istriku yang selalu tabah mebersamai empat jagoan
kecil terus tumbuh dengan tingkahnya masing-masing.
Menjadi pegiat kemanusiaan berarti belajar melepaskan sebagian dari kenyamanan pribadi untuk menghadirkan harapan bagi orang lain. Tapi tidak ada pelajaran yang lebih berat daripada menahan rindu. Rindu yang tak bisa disapa lewat pelukan, hanya lewat doa. Rindu yang tak bisa dijawab dengan tawa, hanya dengan air mata yang disembunyikan di sela-sela tugas.
Kini aku sadar — cinta
buta bukan lagi tentang kehilangan arah, tapi tentang keikhlasan untuk tetap
mencintai meski berjauhan. Tentang percaya bahwa setiap langkah di tanah
misi adalah bagian dari cinta itu sendiri — cinta kepada sesama, cinta kepada
keluarga, dan cinta kepada Tuhan yang menitipkan amanah kemanusiaan.
Dan setiap kali rindu
itu datang, aku menutup mata, mengulang satu bayangan sederhana: suara tawa anak-anak di meja makan, senyum lembut bunda dari balik jemuran, dan
sepeda kecil yang terus melaju di bawah sinar pagi.


Komentar
Posting Komentar