Langsung ke konten utama

Cinta Buta itu Rindu

Dulu, aku pikir cinta buta adalah hal yang buruk — cinta yang menutup logika, yang membutakan arah, yang membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Namun, kini aku tahu, ada satu jenis cinta buta yang justru menumbuhkan makna paling dalam:

cinta buta itu bernama rindu.

Saat pesawat lepas landas meninggalkan tanah air, ada bagian dari hati yang tertinggal di rumah. Di sebuah halaman kecil yang sering dipenuhi tawa anak-anak, di bawah atap sederhana tempat cinta tumbuh dengan cara yang paling tenang.


Aku masih bisa membayangkan dengan jelas — pagi yang lembut itu, ketika aku berangkat. Si kecil duduk di boncengan sepedaku, tangannya yang mungil ikut memeluk stang sepeda. Di samping kami, abangnya ikut bersepeda dengan roda kecilnya, berusaha menyaingi langkah abinya. Dari depan rumah, bunda melirik sambil tersenyum, tangan kanannya masih memeras cucian, menjemur pakaian di bawah matahari Sementara dua abang lainnya sudah lebih dulu pergi ke sekolah, menimba ilmu, meninggalkan cerita lucu semalam tentang sepak bola dan teman-teman bermainnya.

Semua itu kini menjadi potongan investasi rindu yang kutatap dari jauh — dari tanah asing, dari tenda kemanusiaan, dari antara deru angin dan debu di lapangan misi. Setiap kali aku menatap wajah-wajah penyintas, anak-anak yang kehilangan rumah dan keluarga, aku melihat bayangan mereka di sana. Dalam senyum seorang anak yatim, aku melihat anak-anakku yang patut disyukuri bersama. Dalam lelahnya seorang ibu pengungsi, aku melihat wajah istriku yang selalu tabah mebersamai empat jagoan kecil terus tumbuh dengan tingkahnya masing-masing.

Menjadi pegiat kemanusiaan berarti belajar melepaskan sebagian dari kenyamanan pribadi untuk menghadirkan harapan bagi orang lain. Tapi tidak ada pelajaran yang lebih berat daripada menahan rindu. Rindu yang tak bisa disapa lewat pelukan, hanya lewat doa. Rindu yang tak bisa dijawab dengan tawa, hanya dengan air mata yang disembunyikan di sela-sela tugas.


Kini aku sadar — cinta buta bukan lagi tentang kehilangan arah, tapi tentang keikhlasan untuk tetap mencintai meski berjauhan. Tentang percaya bahwa setiap langkah di tanah misi adalah bagian dari cinta itu sendiri — cinta kepada sesama, cinta kepada keluarga, dan cinta kepada Tuhan yang menitipkan amanah kemanusiaan.

Dan setiap kali rindu itu datang, aku menutup mata, mengulang satu bayangan sederhana: suara tawa anak-anak di meja makan, senyum lembut bunda dari balik jemuran, dan sepeda kecil yang terus melaju di bawah sinar pagi.

Maka aku tahu, meski jauh, cinta itu tidak pernah hilang. Ia hanya berubah wujud — menjadi rindu yang terus hidup dalam setiap doa dan langkah pengabdian.

Komentar

  1. Aku siap senyum selalu dibalik jemuran, dibalik jendela, dibalik pintu, tapi tidak dibalik batu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan kah yang dibalik batu itu Udang, bukan kamu sayang #aseek

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Yang Membiru

Nampaknya belum hilang, memori saya beranjak dari kantor buncit awal Februari 2017 silam. Kampus hijau yang membuat saya "terlahir" untuk meneruskan perjuangan, sebagai seorang hamba. 7 tahun yang fantastis dalam fase kehidupan. =============================== Tok tok tok... "Mas Boy, ini laptop dan seluler beserta simcardnya ya. Login dan password sudah saya tuliskan di kertas kecil", ujar Human Resources (HR) Officer Yayasan Sayangi Tunas Cilik (sekarang Save The Children Indonesia). 7 Maret 2017. Satu bulan persis setelah meninggalkan rumah hijau. Setelah mbak HR pergi, saya membatin dalam hati. Keren sekali lembaga ini. Ini adalah poin pertama yang harus saya catat tentang pengelolaan Organisasi international. Cara sederhana lembaga memberi penghargaan kepada staf-nya. Bathin saya kemudian liar, nampaknya 3 tahun disini cukup. Dan saya catat satu per satu pelajaran baiknya sebelum nanti "pulang". 6 bulan kemudian saya tiba di Madrid, Spanyol. Padahal b...

RINI

Mas yang namanya masBoy ya? 2013 kalau ndak salah. Perempuan berhijab yang masih kuliah waktu itu. Logatnya sudah kuduga, pasti orang minang. Kemudian kujawab, Iya bener. Kenapa mbak?   Lupa detail apa yang ia bicarakan saat itu. Tapi kuingat sekali ia menawarkan solusi satu hal di CRM. Lama tak bertemu, ntah mengapa akhirnya ia menjadi bagian tim Fundraising. Ramadhan kalau ndak salah. Maklum, ramadhan memang menjadi tempat singgah Dompet Dhuafa untuk anak mahasiswa yang ingin nambah uang jajan. 2015, akhirnya ia resmi kami rekrut. Menjadi bagian tim hebat FR. Menjadi bagian mak Tika untuk FR Infak Tematik. Aktif dengan tawaran-tawaran solusinya tetap ndak hilang. Satu yang saya rindu dari Rini, saat menelfon tantenya dengan bahasa minang. Fasih, minang 'language' yang sudah mulai jarang Umi dendangkan waktu dirumah. Gadis minang yang kuat. Maklum. Seorang Rini yang harus tetap membiayai adiknya yang juga kuliah saat itu. Saya tidak tahu mendalam mengenai o...