Langsung ke konten utama

 

Brief Keberangkatan


“Misi bantuan ke Palestina adalah misi khusus. Perjalanan paling berat dan menenangkan Adalah misi kemanusiaan menuju Gaza. Musuh dan aktivitasnya jelas”, Kalimat pembuka salah seorang diaspora Gaza sesaat sebelum kami siap berangkat.

Catatan Perjalanan Kemanusiaan (I). 

Satu ruangan seolah hening, saat seorang diasporan Gaza lainnya berkomentar, namun ada jeda; terisak karna memori masih jelas di ingatan saat masuk ke tanah perjuangan. Tanah suci yang banyak tertuang di agama dengan segala perjuangannya. Di saat kami mengkhwatirkan keluarga, beliau memberikan testimoni begini, “Bicara Palestina soal keberkahan. Jadi kita dan keluarga dijamin oleh Allah dalam lindunganNya”. Hati yang sebelumnya agak kencang, reda sejenak agak lapang dengan pesan tersebut.

Pimpinan tertinggi lembaga, turut menyisip pesan agak dalam; “Lakukan penyaluran bantuan dengan smart dan bermartabat”. Penyaluran program yang bermartabat memang menjadi mandatori lembaga saat prinsip-prinsip kemanusiaan disepakati dan berkomitmen terus dilakukan. Gaza memang special case, namun martabat tetap menjadi pedoman utama.

Entah kenapa, dalam hati saya sempat bergumam, “Betapa bersyukurnya saya berada di situasi ini—mendapatkan petuah langsung dari para senior kemanusiaan.” Pengalaman mereka begitu luas, melintasi berbagai daerah hingga wilayah konflik di berbagai negara. Cerita-cerita itu bukan sekadar kisah, tapi potret nyata dari medan yang pernah mereka hadapi. Mulai dari situasi mencekam saat peluru berseliweran di luar hotel akibat konflik antar etnis menerobos perbatasan yang nyaris mustahil dilalui secara normal, hingga berada di titik-titik paling genting—di mana setiap langkah terasa seperti berada di antara hidup dan mati.

Perjalanan 14 Jam Di Tengah Malam

Bertolaknya kami tim pertama menuju Kairo, mengawali usainya adzan magrib waktu Soekarno Hatta. Seorang senior yang baru saja selesai demam dan wajahnya agak lesu, terus berjuang menapaki pintu 2A bandara internasional. Hidungnya tersumbat karna flu berat di hari sebelumnya, Kembali muncul. Misi kemanusiaan memang tak menghalangi Hasrat untuk turun ke medan juang.

Transitnya kami di tengah perjalanan, menunggu penerbangan berikutnya. Mampir di mushola bandara, sejenak luruskan kaki sambil meninggalkan jejak sujud pada karpet mushola. Beberapa saat, seorang petugas mushola menghimbau kami dan seorang teman dari Pakistan untuk meninggalkan mushola. Mungkin karna cukup lama kami duduk sambil mengisi daya smartphone. Seorang teman yang merupakan pelajar di timur tengah agak bergumam kesal. Jadwal penerbangan berikutnya masih cukup lama, sedangkan mushola andalan pelajar untuk memakan waktu ketimbang duduk di kedai kopi yang harganya tak masuk akal bagi, pun kami yang pegawai sosial.

Sungguh, ini menjadi perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh. Bukan semata karena jarak yang terbentang, tetapi karena misi kemanusiaan yang dibawa terasa begitu besar dan tidak ringan. Perjalanan Jakarta–London beberapa tahun lalu, yang dulu terasa panjang, kini justru terasa lebih dekat dibanding langkah kali ini. Barangkali memang, bukan jarak yang membuat sebuah perjalanan terasa jauh—melainkan makna dan tanggung jawab yang menyertainya. Dan di titik ini, saya belajar, bahwa setiap langkah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga tentang bagaimana hati dipersiapkan untuk sampai.

Akhirnya, perjalanan 14 jam malam itu menemui titik akhirnya. Kairo, kota yang kami tuju untuk memulai aktivitas misi kemanusiaan, menghantarkan Amanah yang masuk, dan menuntaskan prinsip kemanusiaan yang harus dituju “no left one behind”.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rumah Yang Membiru

Nampaknya belum hilang, memori saya beranjak dari kantor buncit awal Februari 2017 silam. Kampus hijau yang membuat saya "terlahir" untuk meneruskan perjuangan, sebagai seorang hamba. 7 tahun yang fantastis dalam fase kehidupan. =============================== Tok tok tok... "Mas Boy, ini laptop dan seluler beserta simcardnya ya. Login dan password sudah saya tuliskan di kertas kecil", ujar Human Resources (HR) Officer Yayasan Sayangi Tunas Cilik (sekarang Save The Children Indonesia). 7 Maret 2017. Satu bulan persis setelah meninggalkan rumah hijau. Setelah mbak HR pergi, saya membatin dalam hati. Keren sekali lembaga ini. Ini adalah poin pertama yang harus saya catat tentang pengelolaan Organisasi international. Cara sederhana lembaga memberi penghargaan kepada staf-nya. Bathin saya kemudian liar, nampaknya 3 tahun disini cukup. Dan saya catat satu per satu pelajaran baiknya sebelum nanti "pulang". 6 bulan kemudian saya tiba di Madrid, Spanyol. Padahal b...

Cinta Buta itu Rindu

Dulu, aku pikir cinta buta adalah hal yang buruk — cinta yang menutup logika, yang membutakan arah, yang membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.  Namun, kini aku tahu, ada satu jenis cinta buta yang justru menumbuhkan makna paling dalam: cinta buta itu bernama rindu. Saat pesawat lepas landas meninggalkan tanah air, ada bagian dari hati yang tertinggal di rumah. Di sebuah halaman kecil yang sering dipenuhi tawa anak-anak, di bawah atap sederhana tempat cinta tumbuh dengan cara yang paling tenang. Aku masih bisa membayangkan dengan jelas — pagi yang lembut itu, ketika aku berangkat. Si kecil duduk di boncengan sepedaku, tangannya yang mungil ikut memeluk stang sepeda. Di samping kami, abangnya ikut bersepeda dengan roda kecilnya, berusaha menyaingi langkah abinya. Dari depan rumah, bunda melirik sambil tersenyum, tangan kanannya masih memeras cucian, menjemur pakaian di bawah matahari Sementara dua abang lainnya sudah lebih dulu pergi ke sekolah, menimba ilm...

RINI

Mas yang namanya masBoy ya? 2013 kalau ndak salah. Perempuan berhijab yang masih kuliah waktu itu. Logatnya sudah kuduga, pasti orang minang. Kemudian kujawab, Iya bener. Kenapa mbak?   Lupa detail apa yang ia bicarakan saat itu. Tapi kuingat sekali ia menawarkan solusi satu hal di CRM. Lama tak bertemu, ntah mengapa akhirnya ia menjadi bagian tim Fundraising. Ramadhan kalau ndak salah. Maklum, ramadhan memang menjadi tempat singgah Dompet Dhuafa untuk anak mahasiswa yang ingin nambah uang jajan. 2015, akhirnya ia resmi kami rekrut. Menjadi bagian tim hebat FR. Menjadi bagian mak Tika untuk FR Infak Tematik. Aktif dengan tawaran-tawaran solusinya tetap ndak hilang. Satu yang saya rindu dari Rini, saat menelfon tantenya dengan bahasa minang. Fasih, minang 'language' yang sudah mulai jarang Umi dendangkan waktu dirumah. Gadis minang yang kuat. Maklum. Seorang Rini yang harus tetap membiayai adiknya yang juga kuliah saat itu. Saya tidak tahu mendalam mengenai o...